Senin, 31 Desember 2012

DAMPAK EKONOMI

Dampak ekonomi

Jerman, 1923: uang kertas kehilangan nilai begitu besar sampai-sampai dijadikan pelapis dinding. Jutaan warga kelas menengah Jerman menderita akibat hiperinflasi. Ketika perang dimulai tahun 1914, satu dolar bernilai 4,2 mark; pada November 1923, satu dolar bernilai 4,2 triliun[273] mark.[274]
Salah satu dampak paling dramatis setelah perang adalah perluasan kekuasaan pemerintah dan tanggung jawab di Britania, Perancis, Amerika Serikat, dan Jajahan Imperium Britania. Untuk memanfaatkan semua kekuatan masyarakat mereka, pemerintah membentuk kementerian dan kekuasaan baru. Pajak baru ditetapkan dan hukum disahkan, semuanya dirancang untuk menunjang usaha perang; banyak yang masih ada sampai sekarang. Perang ini juga membatasi kemampuan sejumlah bekas pemerintahan yang besar dan terbirokratisasi, seperti Austria-Hongaria dan Jerman; akan tetapi, analisis apapun mengenai dampak jangka panjang tidak berlaku akibat kekalahan negara-negara tersebut.
Produk domestik bruto (PDB) naik di tiga negara Sekutu (Britania, Italia, dan A.S.), tetapi turun di Perancis dan Rusia, Belanda netral, dan tiga negara Sentral utama. Penurunan PDB di Austria, Rusia, Perancis, dan Kesultanan Utsmaniyah mencapai 30 sampai 40%. Di Austria, misalnya, banyak babi dipotong, sehingga tidak ada lagi daging pada akhir perang.
Di semua negara, pangsa pemerintah di PDB meningkat, melampaui 50% di Jerman dan Perancis dan nyaris mencapai level tersebut di Britania. Untuk membayar pembelian di Amerika Serikat, Britania melakukan investasi besar-besaran di industri rel kereta api Amerika Serikat dan mulai meminjam uang dalam jumlah besar dari Wall Street. Presiden Wilson berada di ambang pemotongan pinjaman pada akhir 1916, tetapi mengizinkan peningkatan besar pinjaman pemerintah A.S. kepada negara Sekutu. Setelah 1919, A.S. meminta pembayaran pinjaman tersebut. Pembayaran ini sebagian didanai oleh dana perbaikan Jerman, yang sebaliknya, dibantu oleh pinjaman Amerika Serikat ke Jerman. Sistem melingkar ini kolaps tahun 1931 dan pinjaman-pinjaman tersebut tidak pernah terbayarkan. Tahun 1934, Britania berutang senilai US$4,4 miliar[275] dalam bentuk utang Perang Dunia I.[276]
"The Girl Behind the Gun" – Pekerja wanita, 1915
Dampak makro dan mikroekonomi terjadi setelah perang. Banyak keluarga berubah setelah kaum pria pergi berperang. Setelah kematian atau ketiadaan pencari nafkah utama, wanita terpaksa bekerja dalam jumlah besar. Pada saat yang sama, industri ingin mengganti buruh-buruh yang hilang karena ikut berperang. Hal ini membantu perjuangan untuk menuntut pemberian hak suara untuk wanita.[277]
Perang Dunia I terus meningkatkan ketidakseimbangan jenis kelamin, sehingga memunculkan fenomena wanita berlebih. Kematian hampir satu juta pria selama perang memperlebar celah gender sebanyak satu juta orang; dari 670.000 sampai 1.700.000 orang. Jumlah wanita belum menikah yang mencari kemapanan ekonomi tumbuh pesar. Selain itu, demobilisasi dan kemerosotan ekonomi setelah perang mengakibatkan tingginya pengangguran. Perang meningkatkan jumlah pekerja wanita, akan tetapi kembalinya pria yang terdemobilisasi menggantikan banyak wanita dari pekerjaannya, disertai penutupan berbagai pabrik masa perang. Karena itu wanita yang bekerja selama perang akhirnya terpaksa berjuang mencari pekerjaan dan wanita yang mendekati usia kerja tidak mendapat kesemaptan.
Di Britania, penjatahan akhirnya diberlakukan pada awal 1918 untuk daging, gula, dan lemak (mentega dan oleo), namun bukan roti. Sistem baru ini berjalan lancar. Sejak 1914 sampai 1918, keanggotaan serikat dagang berlipat dari empat juta orang menjadi delapan juta orang. Mogok kerja semakin sering terjadi pada tahun 1917–1918 karena serikat-serikat tersebut tidak puas terhadap harga, pengendalian alkohol, sengketa gaji, kelelahan akibat kerja berlebihan dan bekerja pada hari Minggu, dan rumah yang tidak layak.
Britania mencari bantuan ke koloni-koloninya dalam memperoleh material perang penting yang persediannya semakin langka di sumber-sumber tradisional. Para geolog seperti Albert Ernest Kitson ditugaskan mencari sumber mineral berharga baru di koloni Afrika. Kitson menemukan deposit mangan baru di Gold Coast yang dipakai untuk pembuatan munisi.[278]
Artikel 231 Perjanjian Versailles (klausa "rasa bersalah perang") menyatakan Jerman dan sekutunya bertanggung jawab atas semua "kehilangan dan kerusakan" yang diderita Sekutu sepanjang perang dan memberi dasar untuk perbaikan pascaperang. Total perbaikan yang dituntut senilai 132 miliar mark emas, lebih dari total emas atau valuta asing Jerman. Masalah ekonomi yang mencuat dari pembayaran tersebut, dan kekesalan Jerman atas posisi mereka, biasanya dianggap sebagai salah satu faktor penting yang mendorong berakhirnya Republik Weimar dan awal dari kediktatoran Adolf Hitler. Setelha kekalahan Jerman pada Perang Dunia II, pembayaran perbaikan tidak dilanjutkan. Jerman selesai membayar perbaikan pascaperang p

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar